Testimoni PaaS Google App Engine

https://logo-hunt.blogspot.com/2020/07/google-app-engine-logo-png.html

Untuk aplikasi yang tidak kompleks, NoOps bisa menjadi pilihan karena tidak perlu tenaga dedicated untuk mengurus infrastruktur. App Engine menawarkan solusi kita hanya tinggal upload code, app engine akan mengurus auto scaling, logging, monitoring, versioning, environment, dan lainnya. Dan juga di dalam app engine sudah dipaekt dengan storage, cached (memcached) yang terdapat free tiernya juga.

Terdapat 2 pilihan app engine, pertama standard yang kita hanya tinggal uplaod code. Scalingnya lebih cepat dan murah dengan menggunakan bahasa yang sudah di support google. Kedua flex yang memberikan kebebasan lebih (bisa samapai kita ssh ke VM nya), menggunakan runtime docker (kita memberi dockerfile kita), cocok untuk aplikasi yang tidak disupport di standard.

Continue reading “Testimoni PaaS Google App Engine”

Refactor docker-compose menggunakan .env

sumber https://dzone.com/articles/running-multiple-services-inside-a-single-containe

Pernah mengalami kondisi menggunakan banyak docker-compose?. Misalkan skenario docker-compose dengan service yang digunakan seperti ini :

  • Aplikasi, webserver, database on premise, object storage on premise (minio)
  • Aplikasi, webserver, database managed (aws rds), object storage manged (aws s3)
Continue reading “Refactor docker-compose menggunakan .env”

Mempercepat Build Docker Image di Gitlab CI/CD menggunakan cache

Untuk yang biasa mem build docker image di local, kemudian mencoba gitlab ci/cd untuk membuild image. Pasti merasakan hal yang janggal karena tiap build waktunya lama dan sama. Ternyata gitlab ci/cd butuh konfigurasi tambahan agar bisa menggunakan layered cache ketika build image. Tidak seperti di local kita yang otomatis build menggunakan layered cache.

Continue reading “Mempercepat Build Docker Image di Gitlab CI/CD menggunakan cache”